Setelah melalui perjalanan panjang dan berliku akhirnya Kuasa Tuhan menyatukan Felicitas Nanik Harini dan Antonius Puji Purwanto dalam Sakramen Perkawinan, yang pada hakekatnya adalah satu dan tak terceraikan. Ada keinginan dan cita-cita berdua yang mengisi hari demi hari dan waktu demi waktu yang kami lalui bersama. Yaitu untuk hidup berkeluarga dalam naungan dan cinta kasih Tuhan serta mendambakan buah hati sebagai lambang harapan dan cinta kasih kami berdua serta karunia dari Tuhan. Hal itu pula yang menghiasi doa demi doa yang kami panjatkan ke hadirat Tuhan.
Dan akhirnya doa itupun terjawab, dua minggu setelah menerima Sakramen Perkawinan ( 3 April 2005 ) kegembiraan terpancar dalam kehidupan keluarga baru kami, sebab pada saat itu Tuhan telah hembuskan satu jiwa dalam rahim Felicitas Nanik Harini. Yah satu jiwa yang menjadi buah hati dan pokok harapan serta doa-doa yang mempersatukan keluarga kami. Kemudian kami mulai menyusun nama yang menggambarkan harapan, doa dan ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala anugerahnya. Namun yang kami dapatkan deretan nama anak perempuan semua sampai bulan ke tujuh. Sampai pada akhirnya kami sadar betapapun kami menginginkan buah hati dalam kandungan itu perempuan namun bisa saja Tuhan berkehendak lain. Dan akhirnya kami kembali merangkai nama laki-laki, sulit memang untuk mendapatkan sebuah nama anak laki-laki yang bisa mewakili harapan, doa dan ungkapan syukur kami. Namun akhirnya muncul satu nama yaitu “ ALEXANDER AGUNG FEANENDRA “
Eh ya setelah menikah ayah memutuskan untuk tidak berlayar lagi dan akan mencari pekerjaan di darat, karena ingin selalu bersama bunda dan Alex yang saat itu masih di dalam kandungan. Dengan kondisi seperti itu kita hidup dengan mengencangkan ikat pinggang, sementara tabungan ayah semakin menipis. Padahal saat itu ayah ikut kursus Management Transportasi Udara di Semarang. Namu Tuhan sungguh baik meski secara matematis ayah tidak punya bekal untuk biaya hidup namun saat itu kita selalu dicukupi. Yah Tuhan campur tangan melalui orang-orang disekitar kita. Baik itu embah wetan, embah kulon, para tetangga dan bude Ris (tukang sayur) yang selalu ninggal lauk pauk meski kita belum punya uang untuk membayar.
Tanggal 2 Januari 2006, sepulang ujian dari Semarang, Bunda sudah tidak berada dirumah. Ternyata bunda ada di rumah embah kulon, ketika ayah menyusul kesana bunda lagi jalan-jalan/mondar-mandir pegang pinggangnya. Katanya sudah pegal-pegal (tanda-tanda akan melahirkan). Setelah beberapa saat akhirnya diputuskan untuk berangkat ke bu Bidan Tuntang diboncengke Pak dhe Har dan ayah memegangi di belakang. Sesampai di Tuntang bunda langsung mendapat penanganan namun sepertinya sang bayi belum akan lahir malam itu. Semalaman ayah mijit pinggang bunda sampe ngantuk-ngantuk, dan setiap ayah ketiduran bunda selalu mbangunin + minta dipijit lagi.
Dini hari bunda diberi infuse untuk memicu kontraksi, kemudian tanda kelahiran itu semakin dekat. Dengan bersusah payah bunda mengejan namun tiga kali bayi itu kembali masuk lagi. Saat itu ayah memangku kepala bunda dan memberi semangat dengab doa dan pujian. Sampai saat yang ke empat ayah membantu mendorong perut bunda, dan diluar ruang bersalin tante niken, om joko, om yus dan yg lainya membaca kitab Mazmur:23. Sehingga akhirnya Alex lahir dan untuk pertama kalinya menghirup udara dunia. Sungguh suatu kelegaan dan kegembiraan yang tiada tara yang kami rasakan, terutama ayah dan bunda. Setelah alex dimandiin dan dikasih baju+ bedong ayah menggendong/menimang sebentar lalu akhirnya pulang untuk mengabarkan kabar gembira ini ke mbah kakung dirumah. Sekalian juga bersih-bersih rumah dan melakukan prosesi memendab batir yg di Bantu mbah kakung + mbah Sukini. Setelah semuanya siap ayah kembali lagi ke Tuntang untuk menjemput bunda + Alex, namun sesampainya di Bu Bidan semua terdiam, padahal ayah begitu bersemangat dan ceria… Ternyata sampai saat itu Alex belum bisa pipis, beberapa saat ayah tenang-tenang saja namun akhirnya kecemasan datang juga hingga keputus asaan melanda. Apalagi saat itu tabungan ayah tinggal 800ribu, sedangkan mbah uti sudah Tanya biaya ke Rumah sakit 2,5 jutaan. Mbah uti saat itu sudah bilang ke ayah agar mencari pinjaman uang untuk persiapan ke Rumah sakit, namun ayah hanya bisa diam tidak menjawab dan tidak berbuat apa-apa.
Kegelisahan menggelayut di pelupuk angan ayah saat itu, rasa capek dan kantuk tidak juga membuat ayah tertidur… Sampai pada akhirnya setelah matahari tenggelam ayah merasa putus asa, ayah ambil Alkitab dan memanggil semua keluarga untuk berkumpul dan berdoa. Sungguh berat saat itu ayah untuk angkat bicara dan berdoa, namun akhirnya dengan terbata-bata ayah mulai berdoa ; “ Aku menyerah ya Bapa…. Anak ini adalah anugerah dan pemberian dariMu… anak ini adalah milikMu… Engkau yang hembuskan nyawa dalam diri anak ini…. Engkau juga yang memelihara hingga ia lahir… Saat ini engkau tahu penderitaan yang ia alami, dan aku mohon ampun karena telah lupa mengucap syukur atas anugerahMu… Kini aku serahkan anak ini ke dalam tanganMu, dan aku yakin… Engkau akan sembuhkan engkau akan pulihkan buah hati kami ini. Bapa semuanya ku serahkan ke dalam tanganMu. Amin
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa
(Mazmur 23)
Setelah berdoa demikian ayah mencium pipi kiri, kanan dan dahi alex juga Bunda terus pamit pulang untuk ambil baju ganti dan buku-buku untuk persiapan ujian besoknya.
Sesampai di palang Tlogo ada SMS, ayah berhenti untuk membacanya. Ternyata SMS dari bunda yang isinya demikian ; “ Puji Tuhan adik sudah bisa pipis ” Sungguh suatu kegembiraan yang lebih dahsyat ayah rasakan hanya pujian akan kebesaran dan keagungan Tuhan yang ayah panjatkan dengan uraian air mat keharuan yang tak terbendung lagi. Sungguh baik Tuhan kepada kita… disaat kita percaya dan menyerahkan segala beban persoalan kita untuk mengandalkan Tuhan, maka ia akan datang menolong, mengangkat beban kita dan menyelesaikan setiap persoalan kita.
Kamis, 10 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar